Perjuangan dengan Rido Allah

Perjuangan dengan Rido Allah




Pagi itu  awal tahun ajaran baru 2009, di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri  berkumpul lah beberapa orang pelajar yang baru saja menjajaki MOSS dengan wajah sumringah dan penuh semangat. Tampak seorang gadis sedang mencari-cari teman yang lambang jurusan dilengan kirinya sama, ia bernama Rizka. Rizka melirik kanan dan kiri tempat berkumpul teman-teman seangkatannya. Perjuangannya mencari teman pun membuahkan hasil, ada Selly, Mona, Hanni, Iis, Maudi, dan Pipit. Seiring waktu, mereka pun berteman semakin dekat dan menamakan persahabatan mereka “KEPOMPOENG”.
Tidak terasa persahabatan mereka hampir mencapai tiga tahun. Saat ini mereka sudah kelas tiga. Dari ketujuh gadis-gadis itu, tidak ada satupun yang memiliki sifat  dan  latar belakang yang sama. Rizka, selly dan Mona selama dua tahun terakhir lebih sering mengambil perhatian dengan prestasinya. Berbeda dengan Rizka  yang berkarakter serius dan pejuang, sedangkan Selly tipe anak yang mudah patah semangat, dan mona yang periang. Sedangkan yang lainnya selama pembelajaran mereka tidak terlalu fokus pada pelajaran melainkan fokus pada bidang lain. Seperti Iis yang fokus ke bandnya, Hanni dan Pipit dibidang online shopnya, sedangkan Maudi fokus pada komputernya sehingga belajar tidak menjadi perioritasnya.
Di kantin sekolah tempat biasa mereka berkumpul ketika jam istirahat,  Selly muncul sambil berceloteh, “wahhh ... gak terasa yach kita udah kelas tiga”, dengan muka sedih Mona mengatakannya. “iyaa, huuftt”, sambut Selly yang ikutan sedih.
“yaaa, berarti kita bakal pisah”, kata Pipit yang membuat suasana semakin sedih.
“Pasti dong, kita pisah untuk menggapai kesuksesan kita. Dan insyaallah kita akan berkumpul lagi dengan memperkenalkan kesuksesan kita itu”, dengan semangatnya ujar Rizka.
“IYAAA !!”, sahut  mereka yang kembali sumringah dengan suara Mona yang terdengar paling cempreng.
            Awal April 2012 adalah saat yang paling menegangkan bagi mereka karena  akan menghadapi Ujian Nasional. Sebagian dari mereka merasa senang karena berarti tidak lama lagi akan meninggalkan bangku sekolah dan lanjut ke perkuliahan, dan sebagiannya lagi bersedih karena harus berpisah dengan sahabat kepompoengnya.
Setiap minggu  mereka sering berkumpul di warung bakso dan es krim milik pak Mul. Suasana ceria dengan senyum penuh keramahan dari pemilik warung dan diiringi angin sepoi-sepoi membuat mereka  semakin betah berlama-lama di warung itu. Suasana itu menambah lancar curhat-curhatan mereka.
“Huuuft .. aku merasa belum siap untuk UN apalagi harus berpisah dengan kalian”, ujar Maudi sambil melempar kerikil ke arah luar. Semua yang awalnya ceria bercanda riang menjadi diam setelah mendengar ucapan Maudi, yang terdengar hanya suara hembusan angin dan tangisan mereka.
“Aduuhh, udah udah semangaaat dong Maudiii ..”, Mona menyemangati Maudi sambil menghapus air mata dan mencoba tertawa.
“Huuu iya, kita harus semangat hehe”, sambut Selly sambil merangkul teman-temannya yang sedang sedih. Tidak terasa hari beranjak sore, mereka pun bergegas pulang.
Keesokan harinya mereka ke sekolah seperti biasa, kebetulan salah satu guru mata pelajaran berhalangan hadir. Kelas pun menjadi ribut karena  di kelas  mayoritas pelajar laki-laki memang suka ribut.
“Ehh, kita belajar bareng yuk nanti, ke rumah aku aja gimana?”, ajak Rizka.
“boleh boleh boleh”, jawab Selly dengan gembira.
“Yeeee, Rizka Rizka Rizka .. nanti kita UN-nya contekkan aja hehe”, canda Mona.
“Husss, kita harus bisa berjuang sendiri tauk, jangan ngandalin Rizka terus”, seru Selly yang greget sama Mona.
“Iyaa kan bercanda”, jawab Mona dengan manyunannya.
Tak lama berselang, guru pelajaran PAI masuk dan langsung duduk dihadapan para siswa dan mendadak diam.
“Ibu tidak akan mengajar hari ini, ibu hanya akan menyampaikan hal serius pada kalian semua”,  ujar Ibu Guru, tapi tidak ada satupun yang menjawab.
“Sebentar lagi kalian akan ujian nasional, cobalah untuk dekat dengan Allah, meminta bantuan dengan Allah, apa lagi paket soal ujian kalian nanti ada 5, selain kalian berusaha, meminta tolonglah sama Allah. Insyaallah”, lanjut gurunya. Semua menjadi semakin diam seiring kepergian guru mereka meninggalkan kelas.
            Sepuluh  hari sebelum UN, mereka gencar membahas soal-soal prediksi UN. Selain memikirkan UN, mereka juga memikirkan kelanjutan setelah lulus nanti. Hari terakhir belajar bersama, tampak wajah - wajah penuh ketegangan menghiasi wajah mereka  yang akan menghadapi UN tersebut.
“Udaaahh, jangan dipikirin. Yang penting kita sudah berusaha. Sekarang kita banyak-banyak berdo’a”, ujar Rizka.
“Iya kita harus semangaaattt!!”, tambah Mona lagi dengan penuh semangat .
“Aku galau”, lanjut Selly.
“Aduh, galau? Kenapa? Mau UN?, tanya Maudi.
“Bukaaann, aku galau setelah UN lulus, trus mau kemana coba? Mana gak ada biaya”, jawab Selly lesu.
“Aaha Selly Selly, gapai cita-cita kamu dong, kayak aku nih, abis kelulusan aku akan fokus nge-band. Musisi gituuu hehe”, jawab Iis.
“Aku, kalo aku mau tes PTN, kalau gak lulus ya sudah deh PTS saja, kata mama begitu ”, sambut Maudi.
“Nah aku ikut Maudi, tapi kalau gak lulus PTN aku mau cari kerja aja hehe”, kata Mona.
“Huuu Mona promosi, eh eh, kalau aku sama deh kayak kalian, tapi kalo gak lulus nganggur dulu deh alias nerusin bisnis shop, trus ikut PTN tahun depan hehe”, ujar Hanni.
“Yuhuuu, aku setuju sama kamu Han, eh kamu Rizka mau melanjutkan kemana?”, sambut Pipit.
“Eee kalo aku, mau ikut semua tes-tes yang ada, sebab aku nggak tahu nasibku ke depan seperti apa, yang jelas aku ingin kuliah yang gratis alias dibiayai pemerintah, biar gak nyusahin orang tua”, ujar Rizka.
“Wah hebat tuh, aku mau ikut Rizka aja ah,  yaa ka?”, kata Selly yang kembali bersemangat.
Waktu adzan ashar tiba, mereka langsung solat berjamaah dan berdo’a bersama.
            Setelah sepuluh hari mempersiapkan diri, mereka harus berjuang melawan soal-soal selama tiga hari berturut-turut dan dalam satu ruang yang sama dengan pengawasan yang ketat.
            Betapa leganya hati mereka setelah melewati tiga hari itu,  tetapi mereka harus menunggu hasil UN selama sebulan lebih. Sambil menunggu  kelulusan, mereka mendaftarkan diri untuk mengikuti tes perguruan tinggi. Beda lagi dengan Rizka, dia juga akan mengikuti berbagai tes di berbagai tempat dan berharap dapat kuliah gratis. Walau perjuangan mereka masih panjang tetapi mereka tetap semangat.
“Ikuti semua tes yang ada beasiswanya, siapa tahu dari beberapa tes itu ada  yang lulus”, kata  Ibunya sambil menggosok punggung anaknya (Rizka).
Pengumuman kelulusan pun tiba dan dapat dilihat secara online. Betapa bahagianya mereka karena ternyata mereka semua lulus. tapi kebahagian itu tidak lah lama sebab tes ke perguruan tinggi yang diikutinya belum satupun yang lolos.  Perjuangan tetap terus berjalan demi kelanjutan sekolah mereka.

“Ya sudah, belum rizkinya kamu lulus disana, sudah syukur kamu lulus UN, atau  mungkin rizki mu berada di tempat lain, jangan menyerah, tetap berusaha dan berdo’a ya nak”, ujar ibunya kepada anaknya Rizka.
“Iya bu, tapi saya kecewa berat, Do’a kan saya yang terbaik ya bu”, kata rizka sambil meneteskan air matanya. “Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini kesabaran, berilah hamba-Mu ini kesuksesa, ridhailah hamba-Mu ini Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini segala sesuatu yang terbaik untuk hamba-Mu ini Ya Allah, Amin Ya Rabbal Alamin”, do’a rizka memohon pada Sang Pencipta.
Seminggu setelah hasil kelulusan diumumkan, mereka pun janjian berangkat ke sekolah. Mereka langsung menuju ke papan pengumuman dan ternyata ada tes beasiswa untuk para calon guru SMK, dan dengan penuh semangat  mereka pun mendaftarkan diri.
Malam itu, hasil tes PTN yang rizka dan teman-temannya ikuti diumumkan. Rizka tidak berani untuk melihatnya karena dia takut kecewa lagi dengan hasilnya.
“Yah sudah, kakak saja yang melihat”,ujar kakaknya.
“ah, tapi jangan marah ya kalau tidak lulus”, ucap rizka ketakutan.
“pasti lulus”, balas kakaknya senyum.
            Setelah dibuka, terpampang lah kata “selamat”. Keluarga rizka sungguh berbahagia malam itu. Ucap syukur tak henti-hentinya terucapkan. Hanya saja rizka tetap merasa kasihan kepada orang tuanya mengingat biaya yang pasti akan membebani orang tuanya. Rizka pun langsung masuk ke kamar.
Esoknya selly menelpon rizka  menanyakan hasil tes yang mereka ikuti sama-sama.
“wah, selamat ya kamu lulus ka”, kata selly.
“kamu lulus apa?”,tanya rizka.
“BMKG, selamat ikut tes selanjutnya ya. Mungkin rezeki aku belum disitu. Kamu selamat berjuang ya”, ucap selly yang sedikit sedih karena mereka lulus di tempat yang berbeda.
“iya ya, sampai jumpa lagi ya.
            Seminggu setelahnya, mereka mengikuti tes tulis calon guru SMK, dengan percaya diri mereka menyelesaikan soal-soal yang terbilang susah itu. Tes calon guru ini adalah tes yang paling diharapkan untuk lulus, sebab bila berhasil dalam tes ini berarti masa depan mereka terjamin dan mereka dapat menjalankan kuliah dengan fokus tanpa beban biaya karena semuanya gratis.  
            sepulangnya dari tes, rizka yang merasa lelah langsung memasuki kamar dan tidur. Hari-hari berganti dengan cepat, minggu ke minggu pun tak begitu terasa telah dilewati, Riska  pun membuka situs pengumuman tes yang begitu diharapkannya itu.
“Ya Allah, Alhamdulillah Ibu, sudah ada pengumumannya”, jerit Rizka kepada ibunya.
“Alhamdulillah, benarkah sambung ibunya. Kalau memang rezeki, kamu pasti lulus”,ujar ibunya  terharu.
“iya bu”. Jawab Rizka sambil memeluk ibunya.
Dalam pengumuman itu tertulis juga 2 nama dari “kepompoeng”.
“selamat ya Rizka, Mona dan Selly, kalian berhasil mendapatkan beasiswa itu, di bandung lagi, Selamat ya”, ujar Iis dalam facebooknya.
“Iya makasih, kamu selamat berjuang lagi ya, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kamu ya”, jawab Mona.
“Kalian pantes mendapatkannya, selama ini yang paling benar-benar sekolah dan belajar ya kalian bertiga, selamat ya perjuangan kalian membuahkan hasil”, tulis Pipit juga dalam facebooknya.
“Hei kalian bertiga, walau jauh dari orang tua jangan jauh dari Tuhan ya”, semangat dari Maudi penuh arti.
“Iya Alhamdulillah, iya insyaallah. kalian jangan patah semangat ya. Kalian pasti bisa”, jawab rizka lagi.
Sebulan berselang, waktu pun menyuruh mereka bertiga dan peserta lain yang lulus berangkat ke Bandung untuk perjuangan mereka selanjutnya.
SELESAI

Quotes : “Berusaha dan berdoa lah, jangan menyerah,  sampai apa yang kamu inginkan itu tercapai. DON’T GIVE UP !!”

Ditulis oleh: Izzah Tiari
Facebook/twitter : www.facebook.com/izzahtiari
                            @izzahRY
Blog                    : izzahtiari.blogspot.com




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Pemimpin Merdeka Belajar?

Rencana Tindak Lanjut (RTL)

Webinar RumBel #1